Ajarkanlah Walaupun Satu Ayat

14 June 2011

Ratu Balqis

Bismillahirrahmanirrahim…..





A
lhamdulillah, setelah sekian lama ana mencari kisah Ratu Balqis di dalam Al-quran, akhirnya ana telah jumpa kisah ini yang tercatat dalam surah Al-Naml ayat 15-44. Macam mana ana boleh jumpa?hehe….. sebenarnya gerak hati ana secara spontan untuk meminjam tafsir Al-quran daripada sahabat ana. Jadi ana pun terbuka muka surat yang tertulis surah Al-Naml. Maka hati ana tergerak untuk membacanya kerana ana ingin tahu kenapa surah itu dinamakan atas nama semut. Bertitik tolak dari situ, maka secara tidak langsung ana telah jumpa apa yang ana mahu. Alhamdulillah, Allah telah mempermudahkan urusan ana J .
                Pastinya sahabat sekalian pernah mendengar lagu Balqis nyanyian UNIC. Itu hanya cerita pendek. Kiranya sahabat sekalian ingin mengetahui kisah sebenar, disini ana ingin berkongsi kisah Ratu Balqis yang tercatat dalam Surah Al-Naml. Moga bermanfaat.

Bermula dari Ayat 15 hingga ayat 44 :-
15)    Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya berkata “Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman.”
16)   Dan Sulaiman telah mewarisi Daud[1] dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh (semua) ini benar-benar kurnia yang nyata.”
17)    Dan Sulaiman dikumpulkan dari bala tenteranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib.
18)   Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tiddak dipijak oleh Sulaiman dan bala tenteranya, sedangkan mereka tidak menyedari.”
19)   Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa kerana (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetep mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh.”
20)  Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud,[2] apakah ia termasuk yang tidak hadir?”
21)    Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.
22)   Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’[3] membawa sesuatu berita yang meyakinkan.
23)   Sungguh, kudapati ada seorang perempuan[4] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgahsana yang besar.
24)  Aku (burung Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk,
25)   Mereka (juga) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi[5] dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan.
26)  Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arasy yang agung.”
27)   Dia (Sulaiman) berkata, “Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta.
28)  Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.”
29)  Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.”
30)  Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
31)    Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”
32)   Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak penah memutuskan sesuatu perkara sebelum kamu hadir dalam majlis(ku).”
33)   Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.”
34)  Dia (Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan manjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat.
35)   Dan sungguh, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.”
36)  Maka ketika para (utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia (Sulaiman) berkata, “Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.
37)   Kembalilah kepada mereka! Sungguh, Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentera yang mereka tidak mampu melawannya, dan akan kami usir mereka dari negeri itu (Saba’) secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina.”
38)  Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgahsananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?”
39)  ‘Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kapadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.”
40)  Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab[6] berkata, “aku akan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgahsana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesunguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesunguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.”
41)   Dia (Sulaiman) berkata, “Ubahlah untuknya singgahsananya; kita akan melihat apakah dia (Balqis) mengenal; atau tidak mengenalnya lagi.”
42)  Maka ketika dia (Balqis) datang ditanyakanlah (kepadanya), “Serupa inikah singgahsanamu?” Dia  (Balqis) menjawab, “Seakan-akan itulah dia.” (Dan dia Balqis berkata), “Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya[7] dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
43)  Dan kebiasaannya menyembah selain Allah mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), sesunguhnya dia (Balqis) dahulu termasuk orang-orang kafir.
44)  Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana.” Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”…..Y



[1] Nabi Sulaiman a.s menggantikan kenabian dan kerajaan Nabi Daud a.s derta mewarisi ilmu pengetahuan dan Kitab Zabur yang diturunkan kepadanya.
[2] Hud-hud ialah sejenis burung pelatuk.
[3] Saba’ ialah nama kerajaan pada zaman dahulu, ibu kotanya Ma’rib terletak di dekat kota San’a , ibu kota Yaman sekarang.
[4] Ratu Balqis yang memerintah Kerajaan Sabaiyah pada zaman Nabi Sulaiman a.s.
[5] Seperti menurunkan hujan dari langit, menumbuhkan tanam-tanaman, mengeluarkan logam dari bumi, dan sebagainya.
[6] Kitab di sini maksudnya ialah kitab yang diturunkan sebelum Nabi Sulaiman a.s iaitu Taurat dan Zabur.
[7] Balqis telah mengetahui kenabian Sulaiman a.s sebelum singgahsananya dipindahkan dari negeri Saba’ ke Palestina dalam sekejap mata.